Meniti Jembatan diatas River Kwai



Sebuah obyek sejarah di Thailand yang berhubungan dengan jaman penjajahan Jepang di Indonesia. Dimana bangsa Indonesia dijadikan budak jauh dari negaranya untuk membangun rel kereta api yang menghubungkan Thiland dan Birma melewati gunung batu yang keras. Sementara rel dan jembatan yang dipasang juga berasal dari Indonesia. Sayangnya obyek ini tidak pernah ditawarkan oleh penyelenggara tour di Indonesia sebagai tempat yang layak untuk dikunjungi.
.

THE BRIDGE OVER THE RIVER KWAE 


The Bridge over the River Kwae was build during the Great Pasific War when Japan declared war on the United States of America and England, later became a part of World War II . The bridge begun in October, 2485 BE (1942 AD) and completed in October, 2486 BE ( 1943 AD) On 16th September,  2485 BE (1942 AD) the Japanese army sign the contract with the Thai government to built this strategic railway from Thailand to Burma (now Myanmar). The railway started from Nongpladuk station about 5 kilometres from Banpong railway station, and it crossed the River Kwae Yai at Ban Thamakham in Muang district of Kanchanaburi province ( In those days the place was called “Ban Tha Maa Kham” meaning “horses Crossing”). The railway was laid northward passing through Kanchanaburi for about 4 kilometers along the River Kwae Yai and at the bridge it made a sharp curve going along with the River Kwae Noi passing through the Thai – Burmese border at the Three Pagodas Pass connecting the Burmese railway at Thanbyuzayat station. The total length of the railway was 415 kilometres : 303,95 kilometers in Thailand and 111,05 in Burmar. The prisoners of war taken from Malaya, Singapore, Indonesia and other countries in the Pasific region were forced to build the railway. They were put on the train in the south and got off at Banpong Station. They had to walk for 51 kilometres to get to Kanchanaburi . The prisoners of war comprised British, Australian, Dutch soldiers as well as Malaya, Chinese, Vietnamese, Indian, Burmese, Javanese labourers totaling nearly two hundred thousand. The railway construction was very laborious and difficult as it had to go trough thick jungles and high mountains, and dangerous animals were everywhere. The most difficult part was that they had to build the bridge over the River Kwae. The arduous task continued all days all nights amidst hunger and dangereous disease like malaria. The brutality of the war took over 100.000 lives of prisoners of war and labourers . Hence the railway called “The Death Railway”.  The Japenese army chose to build the bridge at Thamakham because the soil structure was solid and suitable. To speed up the work, the Japanese army built a temporary wooden bridge about 100 metres from the present one to transport construction materials. It took three months to complete. The present iron bridge spans were brought from Indonesia. The 300 metres  bridge consisted of 11 iron spans and other parts were made of wood. The total construction time was only 6 months, and the total distance was 415 kilometres. The official opening date for the railway was 28th November , 2486 BE ( 1943 AD). The wooden bridge was later dismantled as it blocked the water way. During the war, the Bridge over the River Kwae was heavily bombarded  by the alled planes. The spans 4-6 were damaged and unable to operate. Finaly, Japan surrendered on 15th August  2488 BE ( 1945 AD ). After the war was over , the British government sold the railway and all railway related materials to the Thai government at the price 50 million bath. Later, the State Railway of Thailand repaired the bridge and replaced it with two iron spans and the 6 wooden parts were replaced by iron spans as well. The bridge has been in use up to the present time.
  
Manuskrip diatas saya dokumentasikan langsung dari monumen dengan tulisan emas yang ada di halaman stasiun kereta api River Kwai. Kata-kata …. The prisoners of war comprised ……. Javanese labourers totaling nearly two hundred thousand. Serta … The present iron bridge spans were brought from Indonesia. Benar-benar membuat saya menyimak dan serius memandangi semua benda yang ada didepan mata saya. Dalam benak saya terbersit pikiran, bisa jadi satu diantara yang meninggal disini masih ada hubungan kekerabatan dengan saya. Mungkin buyut atau kakek buyut bahkan bisa jadi nenek buyut saya, entah dari ibu entah dari bapak.
Iklan Film tahun 1957 yang dimanfaatkan untuk menarik wisatawan

Lepas dari segala yang bersifat emosional, saya memuji pemerintah Thailand dalam memanfaatkan sebuah film perang yang diproduksi di Hollywood tahun 1957 dengan judul Bridge Over The River Kwai untuk menarik wisatawan.  Film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Thailand, karena shooting dilakukan di Sri Lanka. Tetapi ceritanya memang tentang kekejaman tentara Jepang saat ingin menembus gunung untuk memasang rel kereta dari Thailand menuju Birma diatas sungai Kwai. Sayangnya obyek ini tidak pernah ditawarkan oleh penyelenggara tour di Indonesia sebagai tempat yang layak untuk dikunjungi. Mungkin posisinya yang terlalu jauh dari Bangkok atau memang masyarakat Indonesia yang berwisata keluar negeri tidak suka dengan mengunjungi sisa-sisa kesedihan bangsa tempo dulu. Mending ke Pattaya melihat gemerlapnya dunia malam dari pada melihat monumen perang. Karena belum tahu, untuk menuju River Kwai memang memerlukan sedikit perjuangan saat di Bangkok, sebab kereta api yang menuju River Kwai tidak berangkat dari Hua Lumpong tetapi dari stasiun Thonburi. Saya pernah mendengar informasi kalau Sabtu dan Minggu ada kereta api wisata menuju River Kwai yang berangkat dari stasiun Hua Lumpong. Namun beberapa kali saya berada di Hua Lumpong belum pernah melihat ada jadwal yang  jelas berada di tempat pengumuman atau loket penjualan tiket. Dengan berpikiran positif, dari Mall MBK saya naik bus warna kuning nomor 203, sesuai dengan arahan petugas dari kiosk tourisme di sisi Mall MBK, yang  ternyata membuat saya terdampar di Khaosan Road. 
  
Ternyata bus hanya sampai Khaosan Road

 
Asam Jawa, tumbuh bagus dan dipelihara dihalaman Museum Nasional Thailand

 
Bangunan Museum Nasional Thailand

 

Saya berjalan kaki sesuai dengan peta, entah berapa kilometer, melewati Museum Nasional yang megah dengan pohon Asam Jawa (orang Thailand menyebut Asam Jawa, yang merupakan hadiah Bung Karno kepada rakyat Thailand)  disekelilingnya menuju Pier Wat Mahathat ditepi sungai Chao Phraya yang akan menyeberangkan saya menuju Thonburi. 


Seperti Pier-Pier lainnya, Pier Wat Mahathat juga berada didalam pasar sehingga tidak terlihat dari jalan besar. Sesampainya diseberang sungai setelah beberapa saat naik perahu penyeberangan, ternyata lokasi stasiun Thonburi masih lumayan jauh. Namun sebagai pengelana dengan kaki yang sudah terlatih dimana berjalan 5 Kilometer bukan merupakan jarak yang jauh, saya menyusuri jalan yang cukup ramai ke arah stasiun Thonburi. 

Di pintu keluar Pier banyak juga taxi atau tuk-tuk, tetapi untuk penghematan tentu saja jalan kaki merupakan pilihan utama, toh kereta api masih berangkat nanti. Akhirnya sampai juga di sebuah stasiun kereta api yang tidak terlalu besar, berada dilingkungan pasar  tradisional, stasiun kereta api Thonburi.
Stasiun Kereta Api Thonburi


Jadwal Perjalanan Kereta Api


Tiket Thonburi - Kanchanaburi 100,- Bath



Seperti yang ditulis di monumen diatas, maka The Burma-Siam Death Railway dimulai dari stasiun Nong Pladuk Junction, 80 Kilometer arah barat Bangkok, stasiun yang jalur relnya sampai ke Singapura. Dari Nong Pladuk Junction rel kereta menuju Kanchanburi kemudian menyeberang diatas sungai  Kwai, menyusuri Wampo Viaduct dan saat ini berakhir di stasiun Nam Tok. Nam Tok (sisi Thailand) menuju Moulmein (sisi Birma sekarang Myanmar) rel kereta melewati jalan sempit dicelah gunung yang saat ini, karena kekejaman yang amat sangat saat itu, disebut sebagai Hellfire Pass. Sayangnya rel kereta api yang ada sudah diangkat.




Lingkaran pembawa surat perjalanan kereta api, cara lama yang masih dipakai di Thailand. Seperti perjalanan kereta api jaman-nya Cow Boy di Wild West
.
.



Stasiun Kereta Api River Kwai Bridge

Karena sudah memanfaatkan judul film perang The Bridge On The River Kwai yang tidak pernah dibuat di sungai Kwai Thailand, maka pemerintah Thailand (kalau info yang saya terima benar) dtahun 1960 mengganti nama sebuah sungai yag semula bernama Mae Khlung menjadi Kwae Yai untuk kepentingan mengundang turis. Sebab yang dilintasi oleh jembatan kereta api yang telah mengorbankan ribuan jiwa manusia tersebut bukan sungai Kwai tetapi sungai Mae Khlung. Sungai Kwai sendiri mengalir disebelah utara Kanchanaburi dan paralel dengan rel keret api beberapa Kilometer serta tidak pernah diseberangi.

Jembatan River Kwai berjarak 5 Kilometer dari pusat kota Kanchanaburi (oooh, jadi saat itu saya jalan kaki 5 Km dari Jembatan menuju hotel yang saya pesan di Kanchanaburi ?) dan dikelilingi oleh pasar tradisional, toko-toko, penukaran uang serta café. Jangan lupa semua kegiatan pasar dan toko serta penukaran uang disekeliling jembatan sudah tutup jam 16.00. Jarak antara jembatan dengan stasiun kereta api River Kwai kira-kira hanya 200 meter saja, jadi sangat dekat. Diatas jembatan setiap harinya akan lewat 6 rangkaian kereta api ( 3 rangkaian dari arah stasiun Nam Tok dan 3 rangkaian dari arah Stasiun River Kwai) dengan kecepatan yang tidak boleh lebih dari 10 Km/jam. Sangat pelan karena disamping banyaknya orang yang berkerumun diatas jembatan, rel keretanya sendiri tidak mampu menerima beban dengan kecepatan tinggi. Hal ini disebabkan pemerintah mempertahankan kondisi jembatan dan rel yang digunakan se-asli mungkin. Bahkan saya menemukan sebuah rel yang dibuat oleh Krupp Jerman dengan tahun pembuatan 1903, saya mengatakan pada anak saya, ini mungkin rel yang diambil dari stasiun Jombang.
Jembatan asli dari pulau Jawa ( tolong para ahli sejarah, jembatan kereta api di kota mana yang diangkat oleh Jepang ini) berbentuk lengkung, namun ada dua yang sudah tidak asli dan berbentuk persegi. Konon kabarnya, yang asli rusak parah karena di bom saat perang ditahun 1945 sebelum Jepang menyerah bulan Agustus.
Siapa tahu ini rel dari stasiun Jombang



Tolong, ini jembatan dari mana? kata monumen, tertulis dari P. Jawa


Nama aslinya Mae Khlung, di ubah nama jadi Kwai......hehehehehe

Yang bagian luar ukuran rel normal, yang bagian dalam rel ukuran Jepang.






Kanchanaburi –merupakan kota awal untuk melakukan explorasi yang menyangkut masalah mengenai tenaga kerja paksa dari pulau Jawa yang dibawa Jepang ke Thailand. Di Kanchanaburi sendiri terdapat makam korban perang serta hotel untuk bermalam. Karena saya menggunakan kereta api terakhir dari Thonburi, maka saya tidak turun di stasiun Kanchanaburi namun terus menuju stasiun River Kwai. Tetapi dari pengalaman, memang sebaiknya ikut kereta api menuju River Kwai dari pada turun di Kanchanaburi, ke hotel baru ke River Kwai. Cara seperti ini (turun di Kanchanaburi) tidak menghemat ongkos angkuan lokal, jalan kaki-pun akan menempuh 10 Km pergi-pulang. Kota Kanchanaburi sangat hidup dimalam hari, warung-warung makan ditepi jalanTanon Maenamkwai, café dan bar sangat hingar bingar. Siang hari kota menjadi sepi, hanya kegiatan perkantoran resmi yang beraktivitas. Jangan kawatir, tarip hotel disini tidak mahal, hotel-hotel kelas USD 15,- cukup banyak. Harga makanan diwarung tepi jalan juga murah, tidak ada bedanya harga untuk penduduk lokal dan pendatang. Bangsa Thailand sangat menghargai wisatawan, mereka sadar kalau kehidupan kotanya banyak dari uang para pendatang.

Hotel murah dan makan murah di Tanon Maenamkwai, kalau jalan terus akan sampai di River Kwai


Stasiun Kereta Api Kanchanaburi dari dalam


Antri tiket kereta api untuk pulang ke Thonburi, tiket paling mahal untuk sepur kelas 3, 100 Bath

Ini tank baru, diatas gerbong kereta api


Saya tidak tahu apa seperti ini juga dinamakan Kereta Kelinci

Saat ini saya baru sampai diatas jembatan River Kwai, saya masih ingin meneruskan perjalanan saya melewati Wampo Viaduct, melihat celah gunung batu Hellfire Pass sampai perbatasan Myanmar, menelusuri rel kereta api yang dibawa Jepang dari tempat kelahiran saya. Semoga Allah mengijinkan, amiin.
 










1 komentar:

  1. Kisah perjalanan yang mengasyikkan desertai foto melengkapi keterlibatan emosional pembacanya (saya). Kalau ada travelling write lainnya tolong dikasih tahu.

    BalasHapus